Arah dan Proyeksi Ekonomi Islam

Oleh: Safri Haliding

(Dosen FE Unismuh Makassar, Mahasiswa S2 IIUM dan Inceif Fellow Central Bank Of Malaysia)

Perkembangan Ekonomi Islam (ekonomi Syariah) di Indonesia menunjukkan perkembangan yang signifikan. Tumbuh suburnya lembaga-lembaga perbankan syariah ataupun lembaga keuangan non bank, tidak saja di kota-kota besar tetapi juga sudah merambah ke kota kabupaten dan kecamatan semakin memudahkan proses dan akselerasi sosialisasi ekonomi syariah kepada umat.
Dari data statistik perbankan syariah Bank Indonesia bulan September 2010, pencapaian perbankan syariah terus mengalami peningkatan dalam jumlah bank. Berawal dari berdirinya Bank Muamalat Indonesia tahun 1992 sampai 2005 hanya ada tiga Bank Umum Syariah (BUS), 19 Unit Usaha Syariah (UUS), dan 92 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) dengan total jumlah kantor baru mencapai 550 unit. Dalam rentang lima tahun (2005-2010), pertumbuhan perbankan syariah mengalami lonjakan lebih dari dua kali lipat. Jumlah BUS saat ini telah mencapai 10 unit dengan 23 UUS. Selain itu, jumlah BPRS telah mencapai 146 unit dan total jumlah kantor syariah sebanyak 1.640 unit. Secara geografis, sebaran jaringan kantor perbankan syariah juga telah menjangkau masyarakat di lebih 89 kabupaten/kota di 33 provinsi.

Dari segi aset, perkembangan perbankan syariah meningkat secara signifikan, dari Rp20,880 miliar (2005) menjadi Rp83,454 miliar (September 2010). Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp63,912 miliar dan jumlah pembiayaan sebesar Rp60,970 miliar. (Ali Rama, Republika 29 Desember 2010 ).

Pasar Modal Syariah

Berawal dari ditandatanganinya nota kesepahaman antara Bapepam dengan Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), maka secara resmi Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) meluncurkan prinsip pasar modal syariah pada 14 dan 15 Maret 2003. Sejak itu perjalanannya perkembangan dan pertumbuhan transaksi efek syariah di pasar modal Indonesia terus meningkat. Mulai dari total sukuk tahun 2010 terdaftar 11 sukuk negara dan 29 sukuk korporasi, sementara saham listing di bursa efek syariah tahun 2007 sebanyak 196 mengalami peningkatan pada tahun 2010 dengan total saham listing 194 saham, sementara reksa dana yang tercatat sebanyak 50 di tahun 2010. Hingga Agustus 2010, reksa dana syariah baru mengambil proporsi sebesar 8,36 persen dari jumlah total reksa dana secara keseluruhan dan jumlah ini mengalami peningkatan dari tahun 2009 sebesar 7,54 persen.

Perkembangan kegiatan investasi syariah di pasar modal Indonesia masih dianggap belum mengalami kemajuan yang cukup signifikan, di tengah maraknya pertumbuhan kegiatan ekonomi syariah secara umum di Indonesia, meskipun kegiatan investasi syariah tersebut telah dimulai sejak pertengahan tahun 1997 melalui instrumen reksa dana syariah serta sejumlah fatwa DSN-MUI berkaitan dengan kegiatan investasi syariah di pasar modal Indonesia.

Perkembangan pasar modal yang berbasis syariah dapat dikatakan sangat tertinggal jauh terutama jika dibandingkan dengan Malaysia yang sudah bisa dikatakan telah menjadi pusat investasi berbasis syariah di dunia, karena telah menerapkan beberapa instrumen keuangan syariah untuk industri pasar modalnya. Kenyataan lain yang dihadapi oleh pasar modal syariah kita hingga saat ini adalah minimnya jumlah pemodal yang melakukan investasi, terutama jika dibandingkan dengan jumlah pemodal yang ada pada sektor perbankan.

Perkembangan Zakat

Sementara untuk dana sosial seperti zakat dari masyarakat diprediksi akan terus meningkat IZDR (Indonesia Zakat dan Development Report) memprediksi pengumpulan zakat nasional pada tahun 2011 yang berkisar antara Rp1,85–2,95 triliun. Namun dengan inovasi regulasi yang ada serta produk penghimpunan untuk lebih meyakinkan calon muzakki, maka diyakinan perolehan pengumpulan dana zakat nasional 2011 mampu melebihi angka Rp3 triliun. Sementara, potensi penurunan jumlah kemiskinan mustahiq tahun 2011 mampu mencapai 13,88 persen –dengan perolehan zakat nasional dalam kisaran Rp2-3 triliun.

Kenaikan ini disebabkan oleh meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada lembaga pengelola zakat. Namun, potensi besar ini terancam menurun seiring keinginan pemerintah melalui revisi UU Zakat untuk ”mengambilalih” hasil pengelolaan zakat dan menjadikan lembaga zakat sebatas pengumpul zakat. RUU yang kental dengan semangat sentralisasi justru bisa mengebiri partisipasi masyaralat dalam pengelolaan zakat dan meruntuhkan kepercayaan yang sudah terbangun.

Di sisi lain, lembaga pendidikan tinggi agama telah menyelenggarakan pendidikan ekonomi Islam dalam rangka menyiapkan sumber daya manusia berkualitas -selanjutnya diharapkan dapat menjadi mujahid al-iqtishad (pejuang ekonomi Syariah). Beberapa perguruan tinggi agama telah mengasuh pendidikan tinggi ekonomi Islam pada tingkat jurusan atau program studi. Tidak lama lagi, beberapa perguruan tinggi akan mencoba untuk menyelenggarakan pendidikan tinggi setingkat fakultas.

Yang lebih menarik, beberapa lembaga pendidikan tinggi umum juga telah membuka program studi ekonomi Islam, meskipun kadang kala terdapat perbedaan persepsi dan epistemologi, namun problem ini tidak boleh menjadi penghalang untuk pengembangan ekonomi Islam di perguruan tinggi umum.

Dengan geliat perkembangan ekonomi syariah yang memukau, dari total jumlah kantor syariah yang dibuka dari tahun 2009 sebanyak 1.223 meningkat 34 persen menjadi 1.640 pada tahun 2010, jika diasumsikan pada tahun 2011 aset perbankan syariah mengalami peningkatan 35 persen dari jumlah total aset maka total jumlah SDM di industri perbankan syariah yang dibutuhkan sebanyak 25.259 pegawai dengan kondisi existing jumlah pegawai 18.350 pada 2010 maka industri perbankan syariah pada 2011 diproyeksi akan membutuhkan tambahan pegawai sebanyak 6.909 pegawai.

Pada tahun 2011, aset perbankan syariah diharapkan dapat mencapai market share lebih besar dari lima persen, target tersebut bisa tercapai apabila para stakeholders bekerja sama melakukan bebagai terobosan peningkatan aset baru berupa perluasan/pendirian UUS dan BUS baru, konversi aset perbankan konvensional ke UUS ataupun BUS, kampanye penggunaan transaksi keuangan syariah serta keuntungannya secara progresif sampai ke semua level masyarakat, sebagian dana BUMN dan pemerintah ditempatkan di bank syariah dan lainnya. Melakukan edukasi kepada masyarakat secara merata ke semua level dengan pendekatan yang lebih menarik.

Terakhir adalah kesiapan untuk memasuki pasar integrasi ASEAN pada 2015. Perlu peningkatan daya saing perbankan syariah nasional untuk berkompetisi dengan pemain-pemain dari luar, mengingat potensi pasar Indonesia yang masih sangat menjanjikan.

Ekonomi Islam tidak sekadar alternatif tetapi perlahan namun pasti menjelma menjadi pilihan utama sistem ekonomi bangsa pada masa mendatang. Kita semakin yakin nilai-nilai syariah pasti memberikan kemaslahatan bagi kehidupan berbangsa kita. Wallahu ‘alam.

*) tulisan ini dimuat di Harian Fajar Jumat, 21 Januari 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s