Keberkahan Ekonomi dan Dilematika Haji

Ditulis oleh Safri Haliding

Ibadah haji kembali menyapa kita. Para tamu Allah dari seluruh penjuru dunia akan berbondong-bondong menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu (material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi yang dikenal sebagai musim haji (bulan Dzulhijjah).

Hal ini berbeda dengan ibadah umrah yang bisa dilaksanakan sewaktu-waktu. Kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah ketika umat Islam bermalam di Mina, wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, dan berakhir setelah melempar jumrah (melempar batu simbolisasi setan) pada tanggal 10 Dzulhijjah.

Ibadah haji tidak hanya melatih aspek ketakwaan namun dalam haji seorang muslim diuji bagaimana ketakwaan diterapkan dalam kondisi seseorang memiliki kekayaan. Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana menyikapi dunia dengan sikap zuhud, tidak mencintai dunia dan tidak rakus terhadap materi. Islam juga mengajarkan bagaimana seseorang berlaku ketika seseorang memiliki kekayaan duniawi.

Ibadah haji melatih segenap kemampuan manusia untuk difungsikan menerjemahkan nilai-nilai ketakwaan. Ibadah haji selain merupakan ibadah ritual yang mencakup berbagai kegiatan fisik dan spiritual, juga merupakan aktifitas ekonomi yang membutuhkan kapasitas finansial yang relatif besar.

Rangkaian ibadah haji memberikan gambaran miniatur ajaran Islam yang tidak memosisikan dunia selalu berlawanan dengan akhirat. Haji memberikan gambaran praktis bagaimana dunia difungsikan sebagai tangga menuju keridhaan Allah dan jembatan menuju kehidupan akhirat.

Keberkahan Ekonomi

Haji adalah ritual ibadah, yang mempunyai dampak luar biasa, baik spiritual maupun ekonomi. Dalam surat al-Hajj ayat 28 Allah menyebutkan bahwa di antara maksud dan tujuan penyelenggaraan ibadah haji adalah agar umat manusia menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka. Para ulama tafsir menyebutkan diantara manfaat yang disaksikan dalam ibadah haji adalah manfaat perniagaan yang terjadi dalam musim haji.

Dari ibadah haji banyak usaha bisnis yang mendapatkan keuntungan atau keberkahan seperti dunia penerbangan, kendaraan/angkutan darat, perhotelan, makanan dan minuman, telekomunikasi, industri garmen dan tekstil untuk kain ihram, jilbab, sorban, tas, kopor dan sajadah, perbankan untuk penerimaan setoran ONH, kartu kredit, dan travel check,

serta lalu lintas transfer, asuransi untuk penjaminan dan perlindungan keamanan perjalanan, kendaraan, gedung, hotel, dan jiwa jamaah, jasa kurir dan kargo untuk pengangkutan kelebihan barang serta oleh-oleh, perlengkapan kemah dan tenda untuk jutaan jamaah di Arafah dan Mina dan bisnis souvenir dengan berbagai jenis barang-barang merchandise dan elektronik yang menjadi oleh-oleh jamaah untuk keluarganya di tanah air mulai dari oleh-oleh yang kecil sampai yang besar, yang murah hingga yang mahal.

Hal itu merupakan merupakan sebuah peluang dan tantangan tentang sejauh mana kita, bangsa Indonesia melihat potensi ekonomi dari ibadah tahunan ini. Jika dimanfaatkan dengan baik, maka musim haji bisa menjadi peluang untuk mengurangi angka pengangguran, meningkatkan perdagangan, dan meningkatkan perekonomian.

Tun Musa Hitam, mantan wakil perdana menteri Malaysia mengemukakan besarnya potensi dana haji yang bisa dikelola untuk meningkatkan ekonomi. Malaysia melalui Lembaga Tabung Haji (LTH) telah berhasil melakukan hal itu dan memutarnya ke dalam berbagai sektor riil yang berperan besar dalam menggerakkan dan memajukan ekonomi negaranya.

Keberhasilan Malaysia mengelola dana haji melalui Lembaga Tabung Haji (LTH) yang didirikan tahun 1963 dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah serta semua unsur yang terlibat dalam pengelolaan jamaah haji.

Dilema Pengelolaan Haji

Potensi besar dana haji ini juga diperkuat dengan fakta besarnya dana dalam kasus dugaan korupsi dalam penyelenggaraan ibadah haji yang melibatkan mantan Menteri Agama dan mantan Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji sebesar Rp 700 miliar. Bahkan hasil audit BPKP menemukan penyimpangan yang besarnya mencapai Rp 1 triliun.

Bayangkan, dengan kuota haji sekitar 200 ribu orang per tahun, juga kelebihan dana haji yang mungkin berkisar antara Rp 4 juta-Rp 5 juta per jamaah per musim haji. Tentu bisa dibayangkan betapa dahsyatnya manfaat atas keuntungan penyelenggaraan haji ini kalau di manage secara benar dengan prespektif kesejahteraan umat.

Padahal Malaysia saja, hanya memiliki kuota haji sebesar 2.000 orang per tahun mampu membangun sebuah lembaga Tabung Haji yang berhasil dan memberikan manfaat ekonomi yang besar. Meski bersifat komersial mirip BUMN, Tabung Haji mengedepankan sikap profesional dan amanah terhadap dana umat.

Warga yang hendak naik haji pun bisa membayar lebih murah karena bisa mengangsur antara 5 hingga 20 tahun. Saat ini biaya haji atau ONH yang dibayar jemaah asal Malaysia lebih rendah. Mereka membayar ONH 10 ribu ringgit (sekitar Rp27 juta), sedangkan jemaah asal Indonesia sekitar Rp36 juta/orang.

Penipuan terhadap jemaah haji yang dilakukan pihak yang terlibat merupakan persoalan yang perlu diselesaikan bersama. Ketidakjujuran dalam pengelolaan biaya haji baik oleh oknum pemerintah atau pun swasta sangat berkaitan dengan ujian ketakwaan yang merupakan inti tujuan haji itu sendiri.

Berbagai kendala yang dihadapi dalam pengelolaan haji mesti diperhatikan. Pertama, urusan haji telah menjadi ladang bisnis yang luar biasa besar dan menguntungkan berbagai pihak. Kedua, urusan haji telah menjadi lahan Depag yang memberi kebanggaan tersendiri, kenikmatan dan keuntungan.

Ketiga, urusan haji telah melibatkan bermacam kepentingan, tidak hanya motif ibadah, tetapi juga politik dan ekonomi. Oleh karena itu, mereka yang menikmati pelaksanaan haji seperti selama ini, tidak akan rela melepaskannya begitu saja.

Maka jika ingin mengelola dan mendayagunakan potensi ekonomi haji yang luar biasa besar untuk kemajuan ekonomi bangsa, harus dengan political will dari pemimpin pemerintahan yang didukung oleh para wakil rakyat kita yang duduk di DPR.

Hal penting seringkali terluputkan adalah jiwa kebersamaan dan kepedulian sosial yang ingin ditumbuhkan dalam ibadah haji. Dalam ritual-ritul haji selalu jemaah haji mengerjakan ibadah secara bersama.

Dan setelah haji yang diakhiri dengan menyembelih hewan kurban juga jemaah haji diajarkan untuk mengingat sesama dengan memberikan daging kurban kepada fakir miskin dan menghadiahkannya kepada tetangga.

Ibadah haji mengajarkan umat Islam untuk jauh dari sifat individualisme dan jiwa egois, sehingga kesejateraan dan kemakmuran dapat dinikmati oleh setiap umat islam dan berdampak pada keseimbangan sosial dan pemerataan ekonomi. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s