Keberkahan Ekonomi dan Dilematika Haji

Ditulis oleh Safri Haliding

Ibadah haji kembali menyapa kita. Para tamu Allah dari seluruh penjuru dunia akan berbondong-bondong menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu (material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi yang dikenal sebagai musim haji (bulan Dzulhijjah).

Baca lebih lanjut

Arah dan Proyeksi Ekonomi Islam

Oleh: Safri Haliding

(Dosen FE Unismuh Makassar, Mahasiswa S2 IIUM dan Inceif Fellow Central Bank Of Malaysia)

Perkembangan Ekonomi Islam (ekonomi Syariah) di Indonesia menunjukkan perkembangan yang signifikan. Tumbuh suburnya lembaga-lembaga perbankan syariah ataupun lembaga keuangan non bank, tidak saja di kota-kota besar tetapi juga sudah merambah ke kota kabupaten dan kecamatan semakin memudahkan proses dan akselerasi sosialisasi ekonomi syariah kepada umat.
Baca lebih lanjut

KONSEPSI EKONOMI ISLAM

Oleh : Samsul Rizal
(Dosen FE Unismuh Makassar)

Ekonomi sebagai suatu usaha mempergunakan sumber-sumber daya secara rasional untuk memenuhi kebutuhan, sesungguhnya melekat pada watak manusia. Tanpa disadari, kehidupan manusia sehari-hari didominasi kegiatan ekonomi. Ekonomi Islam pada hakikatnya adalah upaya pengalokasian sumber-sumber daya untuk memproduksi barang dan jasa yang sesuai dengan petunjuk Allah Swt. dalam rangka memperoleh ridha-Nya.

Ilmu Ekonomi Islam adalah teori atau hukum-hukum dasar yang menjelaskan perilaku-perilaku antar variabel ekonomi dengan memasukkan unsur norma ataupun tata aturan tertentu (unsur Ilahiah). Oleh karena itu, Ekonomi Islam tidak hanya menjelaskan fakta-fakta secara apa adanya, tetapi juga harus menerangkan apa yang seharusnya dilakukan, dan apa yang seharusnya dikesampingkan (dihindari). Sebagaimana yang telanh dikatatakan oleh Adi Warman Karim (2003: 6), dengan demikian, maka Ekonom Muslim, perlu mengembangkan suatu ilmu ekonomi yang khas, yang dilandasi oleh nilai-nilai Iman dan Islam yang dihayati dan diamalkannya, yaitu Ilmu Ekonomi Islam.

Islam memandang bahwa bumi dan segala isinya merupakan amanah dari Allah kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, untuk dipergunakan sebesar- bisarnya bagi kesejahteraan umat manusia. Selanjutnya untuk mencapai tujuan yang suci ini Allah tidak meninggalkan manusia sendirian tetapi diberikan nya-lah petunjuk melalui para Rasulnya. Dimana dalam petunjuk ini Allah memberikan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia, baik aqidah, ahlak maupun syariah. Dimana dua komponen yang pertama aqidah dan ahlak sifatnya konstan dan tidak mengalami perubahan dengan berbedanya waktu dan tempat. Adapun komponen yang terakhir syariah senantiasa berubah sesuai dengan kebutuhan dan taraf peradaban setempat dimana seorang rasul diutus. Kenyataan ini diungkapkan oleh nabi Muhammad s.a.w. Dalam hadist yang maknanya: “saya dan rasul-rasul yang lain tak ubahnya bagaikan saudara sepupu, syariat mereka banyak tetapi agama (aqidah)-nya satu (yaitu mentauhidkan allah)“.

Melihat kenyataan ini syariah islam sebagai suatu syariah yang dibawa rasul terakhir mempunyai keunikan tersendiri, ia bukan saja comprehensive tetapi juga universal. Rincian dari nilai-nilai universal tersebut adalah: Tauhid “Keesaan Allah”, Adl “Keadilan”, Nubuwwah “Kenabian”, Khilafah “Pemerintahan” dan Ma’ad “Hasil”. Sifat-sifat istimewa ini mutlak diperlukan sebab tidak akan ada syariat lain yang datang untuk menyempurnakannya. Comprehensive berarti ia merangkum seluruh aspek kehidupan, baik ritual (ibadah) maupun sosial (muamallah). Ibadah diperlukan dengan tujuan untuk menjaga ketaatan, dan harmonisnya hubungan antara manusia dengan khaliqnya, serta untuk mengingatkan secara kontinyu tugas manusia sebagai khalifah-nya di muka bumi. Kententuan-ketentuan muamallah diturunkan untuk menjadi rules of game dalam keberadaan manusia sebagai mahluk sosial.